Seperti jamaknya pensiunan jendral ABRI di negara kita, mereka masih dipekerjakan di sektor swasta atau di lembaga-lembaga lain yang membutuhkan atau dipaksa untuk membutuhkan. Kata mereka yang membela sistem ini adalah untuk mengurangi dampak negatif dari apa yang terkenal dengan "post power syndrome."
Rupanya Soeharto pun tidak lepas dari kerangka berpikir seperti di atas. Jadi dia memang masih berharap jika dia pensiun dari presiden, masih dibutuhkan di tempat lain.
Namun, sebagai jendral, rupanya dia sudah membayangkan skenario yang bakal terjadi kalau dia pensiun. Beginilah bayangan dia: "Kalau saya nanti pensiun, dan akan ditempatkan di suatu perusahaan, pasti akan diadakan wawancara dahulu." Kemudian Soeharto membayangkan percakapan dalam wawancara tersebut adalah sebagai berikut:
Pewawancara, "Pak Harto, apakah pengalaman bapak sebelum ini?
Soeharto menjawab, "Saya berpengalaman menjadi presiden!"
Pewawancara, "Apakah Pak Harto berpengalaman mendidik isteri?"
Soeharto menjawab dengan agak malu, "Saya tidak berpengalaman"
Pewawancara, "Apakah Pak Harto berpengalaman mendidik anak?"
Soeharto menjawab dengan tersipu, "Saya tidak berpengalaman"
Pewawancara terus saja melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilontarkan kepada orang-orang biasa, ternyata setiap pertanyaan tersebut dijawab oleh Soeharto dengan "tidak berpengalaman" yang tentu saja betul. Oleh karena itu, Soeharto, setelah membayangkan kemungkinan diterima untuk menjadi pegawai di suatu perusahaan adalah kecil, dan mengingat dia tidak punya pengalaman selain menjadi presiden, maka dia bersumpah dalam hati: "Aku harus jadi presiden, sampai mati!, karena itu saja yang saya pengalaman."
Sabtu, 02 Mei 2009
Aku Bersedia Menunggu
Tiga pria mengaku anggota OPM tertangkap Kopassus di Srui. Mereka dijatuhi hukuman mati. Sebelum dieksekusi, komandan regu tembak menanyakan keinginan terakhir mereka.
"Kalau aku mati, aku mohon agar jenasahku di bakar dan abunya ditaburkan di atas makam Tom Wanggai, Presiden Papua yang aku hormati," ujar Mirino.
"Jenasahku juga tolong dibakar dan abunya harap ditebarkan di atas makam Arnold Ap, antropolog besar dan tokoh yang memberi ilham bagi munculnya identitas Papua," ujar Morinus.
"Kalau kamu, apa keinginanmu?," tanya komandan regu pada Nicolaas.
"Sama seperti ke dua temanku. Setelah dibakar, abuku hendaknya ditaburkan di atas makam Soeharto," ujar Nicolaas.
"Lho, Soeharto kan belum mati?"
"Ya, aku bersedia menanti."
"Kalau aku mati, aku mohon agar jenasahku di bakar dan abunya ditaburkan di atas makam Tom Wanggai, Presiden Papua yang aku hormati," ujar Mirino.
"Jenasahku juga tolong dibakar dan abunya harap ditebarkan di atas makam Arnold Ap, antropolog besar dan tokoh yang memberi ilham bagi munculnya identitas Papua," ujar Morinus.
"Kalau kamu, apa keinginanmu?," tanya komandan regu pada Nicolaas.
"Sama seperti ke dua temanku. Setelah dibakar, abuku hendaknya ditaburkan di atas makam Soeharto," ujar Nicolaas.
"Lho, Soeharto kan belum mati?"
"Ya, aku bersedia menanti."
Label:
cecu
Jumat, 01 Mei 2009
Mumi pun kenal Soeharto
Tim arkeologi dari Amerika, Inggris dan Indonesia tersesat di lorong di bawah sebuah piramida kuno di Mesir. Tiba-tiba sebuah mumi berusia ribuan tahun bangkit dan mendekati ketiga antropolog yang kontan jadi pucat pasi.
"Hai, manusia. Siapa kalian dan dan mana asalmu?" ujar mumi dengan suara menggelegar.
"Nama saya Michael, Tuan Mumi. Saya dari Amerika Serikat sebuah negara adidaya," ujar sang arkeolog Amerika dengan membusungkan dadanya.
"Hah... Amerika? Aku tak kenal negerimu. Kalau kamu dari mana?," tanya mumi kepada arkeolog berkulit putih satunya.
"Saya dari Inggris, Tuan Mumi. Nama saya Charles," jawab arkeolog asal Inggris.
"Inggris? Di mana negeri itu?,’ tanya mumi.
"Inggris adalah sebuah negeri yang memiliki jajahan paling banyak di dunia," ujar si Inggris menyombongkan diri.
"Maaf, aku tak kenal bangsamu! Hei, kamu orang pendek dan berkulit sawo matang! Dari mana asalmu?" tanya mumi.
"Tuan Mumi, nama saya Sugeng asal Indonesia," jawab sang arkeolog Indonesia.
"Haaa..?! Kamu dari Indonesia?" tanya mumi sambil memerintahkan agar arkeolog asal Indonesia lebih mendekat padanya, "Omong-omong Soeharto masih jadi Raja Jawa ya?!"
"Hai, manusia. Siapa kalian dan dan mana asalmu?" ujar mumi dengan suara menggelegar.
"Nama saya Michael, Tuan Mumi. Saya dari Amerika Serikat sebuah negara adidaya," ujar sang arkeolog Amerika dengan membusungkan dadanya.
"Hah... Amerika? Aku tak kenal negerimu. Kalau kamu dari mana?," tanya mumi kepada arkeolog berkulit putih satunya.
"Saya dari Inggris, Tuan Mumi. Nama saya Charles," jawab arkeolog asal Inggris.
"Inggris? Di mana negeri itu?,’ tanya mumi.
"Inggris adalah sebuah negeri yang memiliki jajahan paling banyak di dunia," ujar si Inggris menyombongkan diri.
"Maaf, aku tak kenal bangsamu! Hei, kamu orang pendek dan berkulit sawo matang! Dari mana asalmu?" tanya mumi.
"Tuan Mumi, nama saya Sugeng asal Indonesia," jawab sang arkeolog Indonesia.
"Haaa..?! Kamu dari Indonesia?" tanya mumi sambil memerintahkan agar arkeolog asal Indonesia lebih mendekat padanya, "Omong-omong Soeharto masih jadi Raja Jawa ya?!"
Label:
cecu
Belum Tahu Surga Dunia
Seorang pemuda desa kuat iman,sampai saat mau meninggal di umur 90 masih perjaka asli.
Dia pun ingin tulisan di batu nisan nya sebagai berikut: “Aku lahir perjaka, muda perjaka, tua perjaka, dan mati juga masih perjaka.”
Tukang batu nisan bingung karena tulisannya kepanjangan, akhirnya ditulisnya sebagai berikut:
“BELUM TAHU SURGA DUNIA”
Dia pun ingin tulisan di batu nisan nya sebagai berikut: “Aku lahir perjaka, muda perjaka, tua perjaka, dan mati juga masih perjaka.”
Tukang batu nisan bingung karena tulisannya kepanjangan, akhirnya ditulisnya sebagai berikut:
“BELUM TAHU SURGA DUNIA”
Label:
cecu
Langganan:
Postingan (Atom)